Minggu, 04 November 2018


Anehnya Masa-Masa di Teknik Lingkungan
            Perkenalkan namaku adalah Mukhammad Rifki mahasiswa jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Hal aneh di teknik lingkungan dimulai dengan bagaimana aku bisa memilih jurusan ini. Alasanku memilih jurusan ini hanya karena ikut teman. Ya benar. Hanya ikut teman. Disini aku merasa tidak punya pendirian karena hanya ikut teman. Cerita sebenarnya adalah aku memang tidak tahu apa yang harus kuisi untuk pilihan program studi ketiga pada tes SBMPTN jadi akhirnya menanyakan hal itu ke teman dekatku.
            Hal aneh selanjutnya terjadi pada saat menjadi mahasiswa baru. Dalam satu minggu hanya 3 hari masuk kelas. Ya benar. Tiga hari. Jadwal untuk mahasiswa baru memang sangat sedikit. Aku memiliki banyak waktu luang bila dipikir-pikir. Namun semua itu sirna saat ada kegiatan kaderisasi bernama FORMAL atau akronim dari Forum Mahasiswa Lingkungan. Kegiatan ini dibuat oleh himpunan mahasiswa Teknik Lingkungan untuk mengembangkan soft skill mahasiswa baru. Kegiatan ini cukup menyita waktu kami untuk tidak berhura-hura ketika tidak ada kelas dengan tugasnya yang cukup lumayan untuk kami yang notabene mahasiswa baru. FORMAL cukup membuatku tidak bersemangat untuk berkuliah. Namun dengan banyaknya tugas dan kegiatan ternyata nilaiku bagus-bagus saja terbukti pada saat akhir semester 1. Hal ini membuatku bersemangat untuk berkuliah lagi. Lumayan aneh kan.
            Pada semester 2 mata kuliah yang kuambil lebih banyak daripada semester sebelumnya dan kegiatan seperti kepanitaan semakin banyak kuikuti. walaupun FORMAL sudah tidak ada, ada kegiatan yang juga sangat menyita waktu hingga harus ijin tidak mengikuti kelas. Kegiatan ini adalah menjadi panitia sidang umum pembentukan BEM Fakultas Teknik. Satu bulan lamanya kegiatan berlangsung hingga tidak dapat terhitung materi-materi apa saja yang aku lewatkan. Hingga akhirnya pada saat semester 2 berakhir nilaiku sangat turun. Bisa dibilang terjun bebas. Dan akhirnya sempat merasa kecewa terhadap diri sendiri dan merasa mengecawakan orang tua. Namun anehnya entah dimana aku dapat menemukan semangat untuk terus belajar.
            Pada semester 3 dan 4 kegiatan yang kuikuti semakin banyak dan tugas-tugas layaknya berbondong-bondong menyerbuku. Belajar dari kesalahan di semester 2 yang tidak ingin terulang lagi, akhirnya aku berusaha sebaik mungkin mengatur waktu untuk tugas dan kegiatan kepanitiaan. Bahkan di semester 4 aku mulai mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa dalam jurusanku sendiri. Bisa dbilang bahwa organisasi merupakan kegiatan yang terikat dan harus berkomitmen didalamnya sehingga tidak dapat keluar masuk semena-mena. Dari sana aku belajar untuk berkomitmen untuk benar-benar mengatur waktu dalam mengerjakan tugas dan berorganisasi. Sering juga menghabiskan waktu utuk begadang mengerjakan tugas atau membuat konsep sebuah acara. Hal tersebut memang sebuah konsekuensi dari memiliki kegiatan yang banyak. Aneh memang, dulu pada saat semester 1 tidak suka dengan kegiatan-kegiatan yang banyak namun sekarang justru menjebak dirinya sendiri untuk selalu produktif.
            Pada saat ini aku memasuki semester 5. Kegiatan dan tugas semakin banyak pula. Memang disini aku menggunakan kata “mejebak diri sendiri” bukan tanpa alasan. Bila dipikir terlalu panjang apakah harus untuk mengikuti kegiatan yang banyak pada saat tugas yang datang juga sangat banyak tentunya orang dengan pikiran logis akan membatasi dirinya dengan kegiatan-kegiatan tertentu saja, tapi apa yang aku lakukan disini adalah mencoba unuk membuat cerita di masa perkuliahan. Aku merasa dalam hidup setidaknya kita bisa membuat cerita yang akan kita ceritakan di hari nanti. Masa perkuliahan hanya datang sekali seumur hidup. Pada saat ini aku merasa sedang dalam lingkungan yang tepat, orang-orang yang baik, sehingga aku merasa inilah waktunya aku membuat cerita bersama mereka yang nantinya akan kuceritakan di hari-hari yang akan datang. Karena menjadi bagian dari kehidupan seseorang merupakan hal terindah bagiku. Aneh memang.